Sabtu, 06 September 2008

KUTIPAN-KUTIPAN YANG ADA HUBUNGANNYA DENGAN TUBAN


A. Tuban Waktu Pemerintahan Airlangga



Airlangga jadi Raja Medang (1019-1041) sesudah negeri itu dirusakkan musuh. Kemudian Airlangga mendirikan keraton baru di Kahuripan. Kemakmuran rakyat diperhatikanya benar. Aliran Sungai Brantas diperbaikinya, sehingga perahu-perahu dapat berlabuh dengan tenang dan aman di Hujung Galuh, Pelabuhan Kahuripan yang makmur pada masa itu. Karena Hujung Galuh menjadi pelabuhan utama untuk penjagaan antar pulau, maka pelabuhan antar negara ditempatkan di Kambang Putih, yakni di atau dekat Tuban, yang sekarang. Oleh Airlangga diambil sejumlah tindakan untuk memajukan perniagaan di sana. Antara lain pembebasan dari beberapa jenis pajak. Orang-orang asing yang berdagang disana berasal dari jauh. Menurut daftar yang terdapat dalam prasasti-prasasti, Airlangga termasuk pedagang dari India Utara, India Selatan, Birma, Kamboja dan Campa. Hal yang menarik perhatian kita, ialah ketiadaan orang-orang Tionghwa dalam daftar tersebut.
Rupanya hal ini disebabkan karena Tiongkok, dimana peniagaan luar negeri menjadi urusan pemerintah, semata-mata berdagang dengan Sriwijaya seperti dahulu. Pelabuhan Tuban menurut pengaturan jalan-jalan menghubungkan kota tersebut dengan pusat negara yang mungkin sekali letaknya agak ke dalam, menurut keyakinan kami, di daerah Mojokerto. Sejumlah prasasti dari Zaman Airlangga yang didapat di daerah Babat, Ngimbang dan Ploso, menunjukan bahwa justru daerah melalui jalan dari Tuban ke Babat menuju ke Jombang mendapat perhatian yang besar dari Airlangga.

B. Buku Ying Yai Sheng Lan

Berita Tionghwa yang sangat penting, adalah uraian Ma Hua dalam bukunya Ying Yai Sheng Lan. Ma Huan adalah orang Tionghwa beragama Islam, yang mengiringi Cheng Ho dalam perjalanannya yang ketiga (1413-1415) ke daerah-daerah selatan. Kecuali soal-soal mengenai keadaan berbagai daerah yang berhubungan dengan kedudukan politiknya, yang sangat menarik perhatian adalah uraian Ma Huan tentang keadaan Kota Majapahit dan rakyatnya. Kalau orang pergi ke Jawa, katanya, kapal-kapal lebih dahulu sampai ke Tuban. Kemudian dengan melalui Gresik yang banyak penduduknya Tionghwa, orang tiba di Surabaya. Di sini orang pindah ke perahu-perahu kecil berlayar di Canggung. Melalui jalur darat, orang kemudian pergi kearah selatan dan tibalah orang di Mapajahit, tempat kediaman sang raja. Kotanya dikelilingi tembok tinggi yang dibuat dari bata, dan penduduknya sejumlah kira-kira 300 ribu orang. Sang raja kepalanya terbuka, atau tertutup dengan mahkota dengan emas, memakai kain dan selendang, tidak berterompah dan selalu membawa satu atau dua bilah keris. Kalau keluar ia naik gajah atau kereta yang ditarik oleh lembu. Rakyatnyapun memakai kain dan baju, dan tiap orang laki-laki mulai anak berumur 3 tahun memakai keris, yang hulunya indah sekali, terbuat dari emas, culah badak atau gading. Kalau mereka bertengkar sekejap saja mereka sudah siap dengan kerisnya. Mereka bisa makan sirih, senang mengadakan perang-perangan dengan tombak bambu pada perayaan-perayaan, suka bermain-main bersama waktu terang bulan dengan disertai nyayian-nyanyian berkelompok dan bergiliran antara wanita dan pria, gemar pula menonton wayang beber (wayang yang adegan-adegan ceritanya digambar di atas sehelai kain, kemudian dihentangkan antara dua belah kayu dan diceritakan isinya oleh dalang). Penduduk Majapahit terdiri atas tiga golongan : orang-orang Islam yang datang dari barat dan mendapat mata pencaharian di ibukota, orang Tionghwa yang banyak pula memeluk agama Islam dan rakyat selebihnya menyembah berhala dan tinggal bersama anjing mereka.

C. Buku Ling-Wai-Tai-Ta


Dari hasil kesusastraan dapat pula diketahui sedikit bagaimana keadaannya dalam Zaman Kediri. Tetapi masih menarik perhatian ialah keterangan-keterangan yang terdapat dalam berita-berita Tionghwa. Kitab Ling Wai Tai Ta yang disusun oleh Cho Ku Fei dalam tahun 1178 memberikan gambaran yang tidak didapat dari lain sumber tentang pemerintahan dan masyarakat Kediri. Dikatakan misalnya, bahwa orang-orang memakai kain sampai di bawah lutut, sedang rambutnya terurai.
Rumah-rumahnya sangat rapi dan bersih. Lantainya dari ubin yang berwarna hijau dan kuning. Pertanian, peternakan dan perdagangan mengalami kemajuan dan perhatian dari pemerintahpun ada pemeliharaan ulat sutra dan kapas. Hukuman badan tidak ada, orang yang bersalah didenda dan pembayarannya berupa emas, kecuali pencuri dan perampok yang dibunuh. Untuk perkawinan, keluarga anak perempuan menerima mas kawin berupa sejumlah emas, alat pembayaran adalah mata uang dari perak. Orang sakit tidak menggunakan obat, melainkan memohon sembuh kepada para dewa-dewa dan kepada Budha tiap bulan kedua diadakan pesta air, dan orang berperahu-perahu penuh kegembiraan : tiap bulan sepuluh perayaan berlangsung di gunung dan orang berduyun-duyun kesana untuk bersenang-senang. Alat-alat musiknya terdiri atas seruling, gendang dan gambang dari kayu.
Tentang sang raja sendiri dikatakan, bahwa ia berpakaian sutra, bersepatu kulit dan memakai perhiasan-perhiasan dari emas. Rambutnya sanggul di atas kepala. Setiap hari ia menerima pejabat-pejabat dan pengurus pemerintahan. Maka ia duduk di atas singgasana yang berbentuk segi empat. Sehabis sidang para pejabat itu menyembah tiga kali, baru mengundurkan diri. Jika raja keluar, naik gajah ataupun kereta, ia diiringi 500 sampai 700 orang prajurit dan rakyat ditepi jalan semuanya jongkok sampai raja lewat. Dalam pemeritahan sang raja dibantu oleh 4 orang menteri terkemuka, yaitu Rakryan Kanuruhan, Rakryan Mahamantri I Hulu, Rakryan Mahamantri I Rangga dan Rakryan Mahapatih. Mereka ini tidak menerima gaji tetap, tetapi pada waktu-waktu tertentu menerima hasil bumi atau lainnya. Selanjutnya pemerintahan dilakukan oleh 300 orang pegawai, yang memegang tata buku dan tata usaha : 1000 orang pegawai rendahan bertugas mengurus perbentengan, perbendaharaan negara, gudang-gudang persediaan dan keperluan-keperluan para prajurit. Panglima tentara setiap setengah tahun mendapat 10 tail emas dan para prajurit yang berjumlah 30.000 mendapat bayarannya setengah tahun sekali pula dan besarnya gaji sesuai dengan pangkatnya. Demikian keterangan yang kita peroleh dari sumber Tionghwa. Hal-hal tersebut juga terdapat dalam kita Chu-fan-chi oleh Chau-Ju-Kau tahun 1225. Dalam buku tersebut diceritakan juga, bahwa di Asia Tenggara ada dua kerajaan yang terkemuka dan terkaya, pertama ialah Jawa dan kedua Sriwijaya. Di Jawa ada dua macam agama yaitu agama Budha dan agama para petapa (maksudnya Hindhu). Rakyatnya lekas naik darah dan berani berperang, kesukaannya ialah mengadu ayam. Mata uangnya dibuat dari logam campuran tembaga, perak dan timah.

Sejarah Tuban


PEMBABAKAN WAKTU


Sejarah Indonesia sesuai dengan pengertian dari Prof. H. Mohhammad Yamin, dapat terbagi atas lima tingkatan babak zaman.
Babak pertama yang dinamai dengan istilah internasional “Praehistoria” prasejarah atau sejarah purbakala : bermula dengan terbentuknya bumi dan Kepulauan Indonesia serta sejak adanya manusia pertama di tanah air.
Babak kedua dinamai “protohistoria” atau mula sejarah, pembatasan waktu mulai permulaan tarikh masehi tahun 0, sampai permulaan abad ke-7.
Abad ketiga zaman historia yang sebenarnya mulai permulaan abad ke-7 sampai permulaan abad ke-16.
Babak keempat sejak abad ke-16 sampai permulaan abad ke-20.
Babak kelima mulai tahun 1900 sampai sekarang.
Hasil penggalian sampai kini, catatan sejarah Tuban, baru dapat kami ungkap kembali mulai dengan babak ketiga sebagai berikut ini.(Raden Soeparmo).

Janturan Negari Tuban
Swuh rep data pitana. Anenggih pundi ta negari kang kaekaadi dasa purwa. Eka sawiji, adi lunuwih dasa sepuluh, purwa wiwitan. Sanajan katah negari ingkang sinangga pratiwi, kasongan akasa, kapit samodra, nanging datan kadi negari Tuban. Marma kinarya bebuka, ngupoyoa negari satus tan antuk siji, sewu tan jangkep sedasa, sanajan kurebing langit, lumahing bumi, tan arsa madha kadi negari Tuban.
Kawastanan negari Tuban, awit negari ingkal mijil sumberipun toya.

Me-Tu Ban-nyu
Negari ingkang dados kuncining swarga-loka. Negari Sekar pundak, kondang kaloka, arum angambar ing jagad triloka.
Dasar negari panjang punjung, pasir wukir, loh jinawi, gemah ripah karta tur rahaja.
Panjang dawa pocapane, kondang kaloka ing tribawana punjung luhur kawibawane, pasir samodra, wukir gunung. Dene negari angungkurake pagunungan, hangayunake samodra bebandaran. Loh subur kang sarwa tinandur, murah kang sarwa tinuku, jinawi sugih talaga narmada, gemah kang gegriya salebeting praja, jejel riyel apipit aben cukit tepung teritis, ripah kang samya alampah dagang anglur gelur rinten dalu tan ana kendate, labet tan wonten sangsayaning margi. Karta tebih parang muka, tebih saking cecengilan, adoh sangking laku juti. Rahaja para kawula ing padusunan sami ayem tentrem atine, tungkul pangolahe kisma, yeg rumangan ing gawe, bebek, ayam, rajakaya, enjang medal ing pangonan, surup bali ing kandenge dewe-dewe.
Para nara praja sami kontap kautaman, aputus marang wajib panataning negari, racak sakti mandra guna tur samya luhur bebudene.
Tansa ambudidaya harjane negara sakawula, tan remeh cecongkrahan, mung angudi rahayuningrat. Kadaya saking luhur bebudene sri bupati tuwin nara praja, katah para bupati ing manca praja samya sumuyud, bebasan kang celak manglung, kang tebih tumiyung samya anyudara mring Tuban.
Wenang den ucapna jejuluking sri Bupati Ronggolawe. Sri bupati dahat ngundi ing kautaman, mulyakaken agama, nagara myang kawula, tindak adil paramarta. Lampahing pengadilan tan watak ambau kapine, tan mawang santane warga, yen tetela sisip enggal winisesa tan mawi wigih. Sri bupati netepi berbudi bawaleksana, punapa ingkang kadawuhaken tan kena oncad, mesti kaleksanan. Yen ginunggunga, lelabuhane bupati wiyaring laladan, saratri tan apa kendate.
Inggih punika negari Tuban.

Sabtu, 30 Agustus 2008

Telapak Kaki

temaram lampu berjajar dipinggir jalan
dengan beribu-ribu bahkan berjuta Mega W.
dengan didampingi bola lampu besar diatas langit
yang setiap malam terlihat tersenyum
memandang gerak langkah anak-anak kecil
bermain di depan teras rumah
namun senyum bola lampu besar itu
membuat segumpal darah
yang berada di dalam dadaku ini
terasa teriris oleh tajamnya silet
sementara gerak
langkah telapak kaki
teruntai oleh terjangan ombak
terjebak dalam jurang yang curang
di tambah balutan tembok tinggi, besar serta kokoh
ombak itu.......
jurang itu.......
tembok itu.......
penuh teka teki
talapak kaki hanyalah
memiliki sebuah angan-angan....rencana....dan langkah awal......
kini telapak kaki
terdiam tanpa ada tujuan yang jelas
senyum......tertawa....dengan khas candanya
yang selalu berkembang hanyalah
untuk menutupi sesuatu yang terpendam.......
SEMUA ITU HANYALAH UNTUK SANG KEPERCAYAANNYA YANG ENTAH PERGI KEMANA.....
????????????????????????????????????????????????????????????????????