Sabtu, 06 September 2008

Sejarah Tuban


PEMBABAKAN WAKTU


Sejarah Indonesia sesuai dengan pengertian dari Prof. H. Mohhammad Yamin, dapat terbagi atas lima tingkatan babak zaman.
Babak pertama yang dinamai dengan istilah internasional “Praehistoria” prasejarah atau sejarah purbakala : bermula dengan terbentuknya bumi dan Kepulauan Indonesia serta sejak adanya manusia pertama di tanah air.
Babak kedua dinamai “protohistoria” atau mula sejarah, pembatasan waktu mulai permulaan tarikh masehi tahun 0, sampai permulaan abad ke-7.
Abad ketiga zaman historia yang sebenarnya mulai permulaan abad ke-7 sampai permulaan abad ke-16.
Babak keempat sejak abad ke-16 sampai permulaan abad ke-20.
Babak kelima mulai tahun 1900 sampai sekarang.
Hasil penggalian sampai kini, catatan sejarah Tuban, baru dapat kami ungkap kembali mulai dengan babak ketiga sebagai berikut ini.(Raden Soeparmo).

Janturan Negari Tuban
Swuh rep data pitana. Anenggih pundi ta negari kang kaekaadi dasa purwa. Eka sawiji, adi lunuwih dasa sepuluh, purwa wiwitan. Sanajan katah negari ingkang sinangga pratiwi, kasongan akasa, kapit samodra, nanging datan kadi negari Tuban. Marma kinarya bebuka, ngupoyoa negari satus tan antuk siji, sewu tan jangkep sedasa, sanajan kurebing langit, lumahing bumi, tan arsa madha kadi negari Tuban.
Kawastanan negari Tuban, awit negari ingkal mijil sumberipun toya.

Me-Tu Ban-nyu
Negari ingkang dados kuncining swarga-loka. Negari Sekar pundak, kondang kaloka, arum angambar ing jagad triloka.
Dasar negari panjang punjung, pasir wukir, loh jinawi, gemah ripah karta tur rahaja.
Panjang dawa pocapane, kondang kaloka ing tribawana punjung luhur kawibawane, pasir samodra, wukir gunung. Dene negari angungkurake pagunungan, hangayunake samodra bebandaran. Loh subur kang sarwa tinandur, murah kang sarwa tinuku, jinawi sugih talaga narmada, gemah kang gegriya salebeting praja, jejel riyel apipit aben cukit tepung teritis, ripah kang samya alampah dagang anglur gelur rinten dalu tan ana kendate, labet tan wonten sangsayaning margi. Karta tebih parang muka, tebih saking cecengilan, adoh sangking laku juti. Rahaja para kawula ing padusunan sami ayem tentrem atine, tungkul pangolahe kisma, yeg rumangan ing gawe, bebek, ayam, rajakaya, enjang medal ing pangonan, surup bali ing kandenge dewe-dewe.
Para nara praja sami kontap kautaman, aputus marang wajib panataning negari, racak sakti mandra guna tur samya luhur bebudene.
Tansa ambudidaya harjane negara sakawula, tan remeh cecongkrahan, mung angudi rahayuningrat. Kadaya saking luhur bebudene sri bupati tuwin nara praja, katah para bupati ing manca praja samya sumuyud, bebasan kang celak manglung, kang tebih tumiyung samya anyudara mring Tuban.
Wenang den ucapna jejuluking sri Bupati Ronggolawe. Sri bupati dahat ngundi ing kautaman, mulyakaken agama, nagara myang kawula, tindak adil paramarta. Lampahing pengadilan tan watak ambau kapine, tan mawang santane warga, yen tetela sisip enggal winisesa tan mawi wigih. Sri bupati netepi berbudi bawaleksana, punapa ingkang kadawuhaken tan kena oncad, mesti kaleksanan. Yen ginunggunga, lelabuhane bupati wiyaring laladan, saratri tan apa kendate.
Inggih punika negari Tuban.

Sabtu, 30 Agustus 2008

Telapak Kaki

temaram lampu berjajar dipinggir jalan
dengan beribu-ribu bahkan berjuta Mega W.
dengan didampingi bola lampu besar diatas langit
yang setiap malam terlihat tersenyum
memandang gerak langkah anak-anak kecil
bermain di depan teras rumah
namun senyum bola lampu besar itu
membuat segumpal darah
yang berada di dalam dadaku ini
terasa teriris oleh tajamnya silet
sementara gerak
langkah telapak kaki
teruntai oleh terjangan ombak
terjebak dalam jurang yang curang
di tambah balutan tembok tinggi, besar serta kokoh
ombak itu.......
jurang itu.......
tembok itu.......
penuh teka teki
talapak kaki hanyalah
memiliki sebuah angan-angan....rencana....dan langkah awal......
kini telapak kaki
terdiam tanpa ada tujuan yang jelas
senyum......tertawa....dengan khas candanya
yang selalu berkembang hanyalah
untuk menutupi sesuatu yang terpendam.......
SEMUA ITU HANYALAH UNTUK SANG KEPERCAYAANNYA YANG ENTAH PERGI KEMANA.....
????????????????????????????????????????????????????????????????????

Selasa, 17 Juni 2008

Tuban Kota Tua

Kabupaten Tuban terletak pada 111’30”-112’35’ Bujur Timur (BT) dan 6’40’-7’ 18’ Lintang Selatan (LS). Dan berada pada wilayah barat Propinsi Jawa Timur yang berbatasan dengan Propinsi Jawa Tengah.
Usia Tuban telah mencapai tujuh ratusan tahun lebih. Dalam sejarah-sejarah kota/kabupaten di Nusantara, boleh jadi Tuban tergolong sebagai “Kota Tua”. Dibandingkan dengan sejumlah kota atau kabupaten lain di Indonesia, usia yang telah melebihi tujuh ratus tahun lebih itu terbilang jauh diatas rata-rata usia kota di negeri ini. Bahkan lebih sepuh dibanding usia Kota Surabaya atau Jakarta.
Sebuah catatan sejarah menyebutkan, nama Tuban bahkan telah dikukuhkan sekitar dua puluh tahun sebelum pengakuan resmi Kerajaan Majapahit terhadap Kadipaten Tuban, yang melantik Raden Arya Ronggolawe sebagai Adipatinya (1293 M), sedang “Proklamatornya” Kakek Adipati Tuban sendiri, Ki Ageng Papringan alias Raden Arya Dandang Wacana.
Raden Arya Dandang Wacana menamakan kawasan yang dibangunnya “Tuban”. Waktu itu menyebut “TUBAN” diambil dari kata “meTU – BANyune”. Kawasan atau kampung yang dipimpin Ki Ageng Papringan berada di pesisir pantai, yang susah untuk mendapatkan air tawar. Secara perlahan, kampung atau daerah tepian pantai di atas, berkembang dan tumbuh menjadi kota kecil.
Catatan sejarah lain menyebutkan bahwa cikal bakal Tuban telah ada jauh sebelum tahun kelahiran sebagaimana yang diperingati saat ini. Dalam sejarah Lamongan, bahwa tahun 1041 M, Prabu Airlangga melakukan perjalanan dari ibu kota Kerajaan Kahuripan menuju Pelabuhan Kambang Putih, dimana pelabuhan tersebut ditengarai Pantai Boom Tuban. Sedang catatan tahun 1041 M dibuktikan dari petilasan Prabu Airlangga ketika beristirahat di Desa Pamotan Kecamatan Sambeng Kabupaten Lamongan.
Pada saat itu Kambang Putih ditetapkan sebagai Pelabuhan antar negara, sedang Canggu, yang berada di tepi Sungai Brantas dimanfaatkan Prabu Airlangga sebagai Pelabuhan antar pulau. Prabu Airlangga memerintahkan Kerajaan Kahuripan dari tahun 1019-1042 M, membangun “Negeri” dari reruntuhan Kerajaan Medang akibat serangan lawan.
Sejarahpun memberikan petunjuk, bahwa sepanjang masa pra kolonial, Tuban mempunyai peranan gemilang sebagai Bandar dagang interinsulair maupun internasional, disamping mempunyai letak strategis maritim, yang yang berulang kali oleh Sejarah dibuktikan kembali (Tentara Ekspedisi Kubilai Khan mendarat di wilayah Tuban, Tentara Jepang pada permulaan Perang Dunia ke II dan Tentara Kolonial Belanda pada Perang Kemerdekaan yang pertama mendarat juga di Tuban).
Menggali dan melestarikan Sejarah Kabupaten Tuban (Bumi Ronggolawe), memang sangat diperlukan dalam meningkatkan PAD (Pendapatan Asli Daerah). Selain sejarah, budaya dan pariwisata, Kabupaten Tuban juga dikenal sebagai pintu masuknya Agama Islam di Pulau Jawa.
Selain dikenal sebagai Kota penuh sejarah, Tuban memiliki potensi-pontensi Wisata, Budaya dan Sejarah yang luar biasa. Nilai Historis yang terus melekat, pemandangan yang indah, keberagaman budaya, kemajuan perkembangan kota dan lain sebagainya.